Dipandanginya secangkir kopi yang mulai dingin di hisap embusan angin. Hampir saja lelaki itu seharian bermalas-malasan, kalau saja dia tidak membereskan buku-buku yang berserakan di raknya. Kini malam sudah larut diaduk jarum jam. Kantuk belum juga mengajaknya berdialog. Jangankan berdialog menyapanya pun tidak. Atau barang kali lelaki itu telah mengusir kantuk sejak jauh jauh hari. Sepertinya kantuk itu pernah tersinggung di suatu waktu sampai sampai ia enggan menyapa. Tapi sudah lah lelaki itu kini bertemu teman baru. Sebuah novel surealis dengan alur mundur yang membingungkan. Kendati novel itu rumit, lelaki itu tak menyerah menggelutinya. Meniliknya dengan selidik. Lembar demi lebar diperkosanya. tiapkatanya disingkapkan sampai tak ada lagi hijab. Tak jarang juga ia menyelimuti katanya agar tak lekas pergi dari ingatannya. Kerumitan novel itu dianggapnya sebagai manifestasi kecerdasan penulisnya. Memutar alur cerita, menyembunyikan gagasan, membuatnya kompleks se...