Waktu
saat itu menunjukan pukul 17.30 dan kami masih sibuk sibuknya mengambil gambar
yang bagus untuk koleksi foto, raut wajah yang sudah dipenuhi oleh polusi dan
lengket oleh keringat aku pikir akan membuat sesi foto pada waktu itu akan
segera berakhir. Tetapi dia tetap saja asyik dengan kameranya mengambil setiap
moment dihadapannya.
“jangan
berhenti, sebentar lagi mentari akan berada diposisi yang amat bagus untuk
difoto” Dia berceloteh padaku.
Aku berpaling
darinya menatap mentari yang memang sedikit lagi berada diposisi yang bagus
untuk difoto sambil berkata “tapi ini sudah waktunya kita untuk mencari tempat
buat beribadah, sebentar lagi waktu maghrib akan segera tiba”.
Tapi
dia semakin sibuk memandang matahari lewat kamera kesayangannya. Detik demi
detik dia selalu menjepret apa yang menurut dia indah. Lalu kemudian dia
menghampiriku dengan wajah manisnya dan dengan senyum yang membuat hati para
lelaki luluh dihadapannya. Lalu berkata dengan nada yang manja
“bisakah kamu
memfoto aku disana sambil aku memegang matahari”
Tadinya
sempat aku menolak karena beralasan waktu yang semakin sore dan kami masih
sibuk sibuknya dengan urusan duniawi.
Dia
terus memaksa aku untuk memotret dirinya bersanding dengan matahari sore yang
biasa disebut Sunset dengan pose centilnya dan dengan senyum yang penuh dengan tipuan
yang selalu tertanam diwajahnya.
Aku
terus menolak hingga akhirnya aku kalah oleh kata kata manjanya itu
“ ya
sudah sini, tapi hanya satu kali jepretan ya?” aku menggerutu padanya.
Awalnya
dia mengikuti perintahku dengan hanya satu kali jepretan kamera.senyumu tidak
terlihat menipu lagi pertanyaan tentang bagaimana hasil dari gambar yang aku
ambil apakah bagus atau tidak kau lontarkan kepadaku. Tetapi saat kau
menghampiriku dengan gembira dan melihat hasil foto yang lumayan terlihat bagus,
Kata kata itu muncul kembali kata kata yang manja yang centil yang membuat aku
tidak bisa menolaknya.
Akhirnya
saya mengikuti perintahnya sampai dia puas dengan apa yang dia inginkan dengan
jepretan foto pada hari itu.
Kemudian
sore itu kita akhiri, diperjalanan aku tiba tiba merasa salah telah menerima
ajakan dia untuk hunting Photo. Tetapi kesalahan itu saya tutupi dengan selalu
terlihat baik dihadapannya.
Saat
semua orang lalu lalang dihadapan kita, dia malah mengajak saya untuk berhenti
sejenak dan menunda mencari tempat beribadah untuk shalat Maghrib.
“duduklah
sebentar disini, ini tidak akan lama” ujar dia,
aku dengan sepontan
menurutinya dengan alasan mungkin dia lelah karena dari tadi dia asyik memburu
foto yang bagus.
“ baiklah” Ungkap diriku.
Tiba tiba dia menoleh padaku
dan berbicara
“Bisakah kamu membuka kamera dan melihat lihat hasil foto kita
tadi siang”
dalam hati aku menggerutu
“Ya ampun, kau tak puas puas
dengan foto tadi, bukankah bisa kita buka setelah kita melaksanakan Shalat
Maghrib terlebih dahulu” .
Dia
senyum padaku dan aku begitu polosnya mengikuti perintahnya tersebut. Aku hanya
diam dan menyerahkan kamara yang berada dalam genggamanku kepada dia, kemudian
aku mulai berdiri dari kursi halte bus tempat kami beristirahat, sambil melihat
lihat sekitar dan mencari masjid terdekat di daerah itu.
Kemudian
aku menoleh ke temanku, terlihat dia ketawa ketawa sendiri mungkin karena dia
melihat foto foto centilnya tersebut menjadikan dia ketawa ketawa sendiri dan
hal itu pun membuat diriku ikut ketawa melihat keanehan yang terjadi dalam diri
temanku tersebut.
Aku
merunduk melihat ke kamera sambil menyakan
“Apakah foto foto kita tadi terlihat
bagus ?”
Dia
diam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia menoleh kepadaku sambil
memasang wajah yang dipenuhi oleh senyum manisnya itu dan berkata
“ada banyak”.
Hampir
setengah jam kita habiskan waktu kita di halte tersebut. Dan aku mulai gelisah
karena ditempat tersebut aku tidak menemukan masjid, mungkin karena aku tidak
hapal betul daerah tersebut oleh karena itu aku tidak menemukan masjid di
sekitaran daerah tersebut.
Setelah
dia selesai dengan kameranya dan selesai melihat lihat hasil foto kita,
kemudian dia berdiri dan aku langsung berbicara padanya
“Ayo kita cari masjid,
kita belum shalat maghrib sepertinya aku tidak menemukan masjid di daerah sini,
coba kita pergi ke sebelah sana mungkin disana terdapat masjid untuk kita
shalat maghrib”
Dia langsung
mengikuti omonganku tanpa ada kata yang keluar dari mulutnnya.
Diperjalanan
aku sedih melihat diriku ini, bisa bisanya aku melalaikan kewajibanku beribadah
Rabb ku, Aku terus melihatlihat lihat sekitar untuk mencari masjid untuk kita
shalat maghrib.
Kakiku
sudah mulai lelah karena terus dipakai berjalan begitupun dengan temanku, dia
terlihat begitu lelah karena perjalanan itu. Melihat dia begitu capek, aku
pergi ke sebuah warung untuk membeli beberapa botol minuman.
Suara
seperti bapak bapak dan ibu ibu sedang melakukan pengajian terdengar pelan dari
kejauhan.
“Apakah kamu mendengar suara itu” tanyaku sambil melihat lihat
dimana arah suara itu berasal. “mungkin disebelah sana” dia menjawab.
Aku
segera mengambil ranselku yang aku simpan di tanah, kemudian segera aku mengajak
temanku untuk segera pergi ke sumber suara itu.
“Kemana Kita akan pergi”
dia bertanya,
“Pokoknya cepatlah sebelum kita terlambat” Aku menjawab
sambil berjalan lebih dulu.
“bisakah
kau jangan terburu buru seperti itu” dia menyaut kepadaku.
“Tidak
bisa” aku menjawab.
“ ini adalah urusan
kita dengan Tuhan kita, bagaimana bisa aku bisa santai santai sedangkan kita
belum melaksanakan kewajiban kita” .
Kali
ini dia tidak banyak bicara seperti biasanya, dia langsung berjalan mengikutiku
dari belakang.
Puluhan
meter kita berjalan, dia mulai kembali mengoceh
“Hey, dimanakah masjidnya ,
kita sudah jauh jalan tapi tidak menemukan masjidnya”
Aku diam tidak
menjawab omongannya dan terus melanjutkan perjalanan.
Aku
menoleh kepada temanku dan bertanya
“apakah kau merasa capek lagi”.
“Iya, Aku mulai merasakan kembali pegal pada kedua kakiku, apa
sebaiknya kita istirahat lagi untuk beberapa menit saja” Dia menjawab.
“Tapi
masjid yang sedang kita cari sebentar lagi kita temukan, bukankah alangkah
baiknya kita istirahatnya di masjid saja” jawab diriku.
“Baiklah” jawab dia.
Kita
terus melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid, ditengah perjalanan kita
dihadapkan dengan sebuah persimpangan jalan, kita terus jalan hingga tepat
ditengah tengah persimpangan tersebut. Aku melihat lihat ke sebelah kanan,
terlihat sebuah bangunan yang begitu besar dihiasi oleh lampu lampu yang
membuat tempat itu terlihat sangat terang daripada bangunan lain yang berada
disebelahnya. Sungguh aku merasa gembira ketika akhirnya aku dan temanku bisa
menemukan masjid untuk kita beribadah shalat maghrib.
“ayo
kita kesana” pungkas diriku.
Dia diam, Kali ini dia hanya mengangguk mengikuti omonganku.
Aku
dan temanku langsung pergi ketempat itu dengan rasa pegal yang tidak lagi aku
rasakan pada tubuhku. Sesampainya disana aku langsung pergi ke tempat wudhu
untuk mengambil wudhu dan setelah itu aku shalat maghrib Walaupun waktu untuk
shalat maghrib sebentar lagi aka segera habis.
Dikejauhan
aku mengirim pesan lewat handphoneku ke temanku
“Sebentar lagi waktu shalat
isya akan segera tiba, apakah kita diam sejenak disini sambil menunggu waktu
Isya tiba atau kita pergi ?” ungkap diriku.
“Alangkah baiknya kita diam sejenak disini
sekalian istirahat, lagi pula aku masih merasa letih karena perjalanan tadi” Balas dia.
“Oke
baiklah kalau begitu Kita akan disini dulu sebentar” balas aku.
“Oke” singkat dia membalas.
Malam
ini memang malam yang sangat melelahkan, ingin rasanya aku marah kepada temanku
itu karena telah membuat hati ini kesal, tapi bagaimana bisa aku memarahinya, jadi
sebaiknya amarahku ini aku simpan saja.
Setelah
selesai shalat Isya Kita pun langsung pergi keluar masjid untuk melanjutkan
perjalanan pulang. Di perjalanan pulang
aku tercekat perutku tiba tiba bergetar, pikiran tidak lagi berjalan dengan
lancar, tangan pun tidak lagi sekuat sebelumnya Tanpa disadari tiba tiba suara perutku yang mungkin sudah
mulai melakukan aksi demonya berbunyi. Dan hal itu pun membuat kita berdua
terbahak bahak olehnya.
Malam
itupun kita akhiri dengan makan malam bareng disebuah warung, aku dengan lahap
menyantap makanan yang telah dihidangkan dan begitupun dengan temanku.
Comments
Post a Comment