Skip to main content

Keterbatasan Blanko E-KTP

      Keterbatasan blanko E-KTP seringkali membuat geram masyarakat, bagaimana tidak E-KTP yang seharusnya bisa dibuat dalam hitungan jam sekarang bisa menjadi hitngan minggu, bulanan bahkan tahunan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Dari data yang beredar di Internet hal tersebut dikarenakan keterbatasan blanko yang tersebar di kecamatan kecamatan yang menyediakan pencetakan E-KTP. Bahan tersebut memang menjadi bahan pokok dalam pembuatan E-KTP. Apabila persediaan blanko E-KTP habis maka permasalahan tersebut kembali ke masyarakat yang harus rela masuk ke dalam daftar tunggu yang tentu akan membuat masyarakat kembali terombang ambing E-KTPnya.
      Tetapi bagi masyarakat yang belum mendapatkan E-KTP dalam hal ini Pemerintah mengeluarkan suket atau surat keterangan untuk pengganti E-KTP. Suket ini dalam kerjanya sama seperti E-KTP karena berfungsi untuk keperluan apapun. Tetapi dalam penggunaannya masih terbilang tidak efisien dengan ukuran yang besar dan mudah sobek jika terkena air.
            Masyarakat lagi lagi harus menunggu untuk mendapatkan kartu identitas atau KTP ini. Keterbatasan blanko ini memang tidak jauh berhubungan dengan kasus korupsi E-KTP yang menjadi trending topic di negeri ini.

            Dalam hal inilah pemerintah harusnya melalui lembaga lembaganya harusnya menindak tegas pelaku korupsi yang mengakibatkan masyarakat menjadi imbasnya. Pemerintah juga harus memberikan sanksi kepada para aparat aparat kecamatan yang masih memungut uang pangkal untuk pembuatan E-KTP dan masyarakat juga harus tetap mengikuti prosedur prosedur dalam pembuatan E-KTP.

Comments

Popular posts from this blog

Ceramah : Kebersihan Sebagian Dari Iman

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Ilaahi Robbi yang telah memberikan kita beribu-ribu kenikmatan, baik Nikmat Iman dan Islam ataupun Nikmat Sehat Wal'afiat, sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul tanpa satu halangan apapun dan tidak kurang satupun untuk hadir di acara yang Insya Alloh dimuliakan Oleh Allah SWT. Shalawat beserta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Kita Muhammad SAW. yang telah memb...

Keluh Kesah Belajar Jurnalisme Dakwah

Assalamu’alikum Wr. Wb. Hello guys, Perkenalkan nama saya M. Awaludin saya adalah mahasiswa semester 3 di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung prodi yang saya ambil disini ialah Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Disemester ini saya dihadapkan dengan mata kuliah Jurnalisme Dakwah dengan dosen pengampu yaitu Bpk. Dr. Uwes Fatoni, M. Ag. Ngomong-ngomong apa sih itu Jurnalisme Dakwah? Mungkin sebagian orang yang berkecimpung di Dunia Pers berpikir apa sih itu Jurnalisme Dakwah? Memangnya ada Jurnalisme dengan kata Dakwahnya? Mata kuliah baru itu ya? Karena dalam bayangan mereka Jurnalisme yang dibumbuhi dengan dakwah itu terasa asing di telinga mereka, Jurnalisme Dakwah sendiri menurut pandangan saya tidak jauh berbeda dengan pengertian jurnalisme yang berarti sebuah catatan harian mengenai sebuh kejadian tetapi dalam hal ini dalam catatan tersebut mengandung pesan dakwah atau seruan kepada jalan Allah SWT. Oleh karena itu Jurnalisme yang d...

Puisi : Untukmu Pujaanku

"Kau hendak kemana?" tanyamu saat itu. Saat rintik hujan membasahi bumi alam. Satu jam lebih aku dengan nya berdiri diemper toko yang setengah terbuka. Mematung memandang satu sama lain. Jauh sebelum pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Kubiarkan pertanyaan itu menggantung. Tak ku jawab walau hanya dengan bahasa isyarat. Dan memang tak ada pula yang mengharuskan aku menjawabnya. Segera ku tembus rimbunya butir hujan yang jatuh di sore itu.  Kutinggalkan dia dalam diam, dalam pikiran dan pertanyaan yang menggantung atas sikap ku. Aku bukan tega, hanya memberinya ruang untuk bercengkrama dengan pikiranya. Aku rasa itu yang di butuhkannya saat hujan disore itu. -sm.adam